Genetika Real Madrid Dan Chelsea Pada Persib

Genetika berasal dari kata serapan bahasa Belanda: genetica, adaptasi dari bahasa Inggris: genetics, dibentuk dari kata bahasa Yunani: γέννω, genno yang berarti “melahirkan”. Adalah cabang biologi yang mempelajari pewarisan sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion).

Dalam konteks sepakbola, Genetika atau Gen adalah suatu kemiripan kemampuan antar pemain, pelatih, supporter, atau bahkan tim.

Sejak  zaman setelah Generasi Emas Lokal tahun 80 hingga 90an, Persib mengalami penurunan prestasi dalam hal gelar Juara. Tercatat di Liga Indonesia, prestasi terbaik Persib hanya menempati peringkat 5 di wilayah satu tahun 2005, peringkat 5 wilayah barat tahun 2007. Di Liga Super Indonesia, prestasi terbaik Persib adalah menempati peringkat 3 tahun 2007-2008. Sempat juara di turnamen kecil seperti Siliwangi Cup tahun 2000, Kang Dada Cup tahun 2008, dan terakhir Celebes Cup tahun 2012 – namun itu hanya sebatas turnamen kecil untuk sekelas tim sebesar dan selegendaris Persib – tak ada yang spesial kecuali hanya untuk mengobati rasa penasaran bobotoh dengan dahaga gelar juara.

Dan kini, prestasi Persib kembali meningkat sejak Djajang Nurjaman masuk menjadi bagian tim pelatih 3 tahun lalu. Tercatat, Liga Super Indonesia berhasil ia rebut saat menangani tim Persib di musim keduanya.

Persib kembali menjadi raja di sepakbola Indonesia setelah berhasil mengalahkan Persipura di final melalui babak adu penalti (5-7). Kemenangan yang berarti sangat spesial untuk Persib dan Bobotoh karena itu adalah Piala pertama setelah terakhir kali mereka berhasil menjadi juara 20 tahun silam.

Lalu di awal tahun 2015 sukses mendapatkan Piala Walikota Padang. Yang gagal ia dapatkan adalah Piala IIC 2014 yang digelar di awal bulan kedua tahun 2015 sebagai turnamen pra-musim terlama yang pernah ada di sepakbola.

Real Madrid Sebagai Model Persib

Dalam industri sepakbola modern ini, hanya beberapa tim yang masih mengikuti pakem tradisional dengan memaksimalkan pemain asli lokal yang tentunya memiliki kemampuan di atas rata-rata, contohnya Athletic Bilbao dan Barcelona. Namun, nama terakhir kini mulai goyah dengan pakem pemain asli binaannya karena tuntutan sepakbola modern.

Genetika Persib – zaman generasi emas lokal – lebih mirip dua tim dengan wilayah khusus di Spanyol; Bilbao dan Catalan. Memaksimalkan potensi lokal daripada memilih pemain didikan tim lain walaupun kualitas bagus.

Karena tuntutan industri sepakbola modern, Persib kini lebih mirip dengan tim Ibukota Spanyol; Real Madrid daripada Bilbao dengan Athletic-nya dan Catalan dengan Barcelona-nya.

Faktor yang membuat kemiripan itu adalah pemilihan pemain di setiap musim. Real Madrid dengan kuasa Florentino Perez dengan mudahnya mengambil paksa pemain bintang dan penting di klub lain bahkan rival, sama kaitannya dengan Persib di industri sepakbola modern saat ini.

Menggunakan peran Umuh Muchtar sebagai manajer dan tim manajemen yang sehat (dibanding klub sepakbola Indonesia lain), Persib kini dengan mudahnya mengambil pemain-pemain penting terutama dari klub rival seperti Sriwijaya FC, Persija, Arema – kecuali Persipura. Berapa banyak pemain dari tim itu dengan mudahnya berganti kostum menjadi biru-biru Persib semusim setelah permainan bersama klub sebelumnya gemilang?

Jawabannya banyak jika dihitung dari kompetisi Liga Super Indonesia saja.

Apakah itu adalah sebuah kecurangan? Tentu tidak.

Dalam sebuah kompetisi, tujuan akhir yang dicapai ialah mencari kemenangan – lebih banyak dari para saingannya, pengambilan pemain penting di suatu klub saingan adalah hal biasa dalam sebuah kompetisi.

Ambil contoh yang sering terjadi pada Bundesliga Jerman, panasnya persaingan Bayern Munchen dan Borussia Dortmund bukan hanya terjadi pada saat kedua tim itu bertanding.

Diluar lapangan atau tepatnya saat memasuki musim transfer pemain, tidak jarang Bayern Munchen membajak pemain penting Borussia Dortmund. Itu bisa terjadi karena salah sekian strategi Munchen untuk mereduksi kekuatan Dortmund secara perlahan dari luar pertandingan sepakbola.

Dan juga yang paling penting adalah kekuatan finansial yang mendukung persaingan itu terjadi. Bayern Munchen yang memiliki finansial kuat jelas tak bisa disandingkan dengan Borussia Dortmund yang tidak berani bertarung finansial karena alasan filosofi.

Djajang Nurjaman Yang Menganut Filosofi Bermain Jose Mourinho

Dalam beberapa kesempatan saat berbincang dengan media yang meliput seusai timnya bertanding, Djanur pernah mengatakan bahwa ia akan membawa filosofi permainan Chelsea ke timnya musim ini – lalu.

Filosofi permainan Chelsea dibawah kendali Jose Mourinho sendiri adalah dengan mementingkan hasil akhir pertandingan ketimbang memainkan gaya permainan indah tapi berakhir dengan kekecewaan.

Djanur sukses ‘memainkan’ filosofi itu, terlihat dibeberapa pertandingan musim lalu – sebelum akhirnya keluar menjadi juara – timnya lebih sering bermain pragmatis ketimbang meladeni permainan lawan – yang lebih berpeluang dari timnya.

Contoh melawan Persebaya pada pertandingan tandang, sebenarnya di pertandingan itu Persib bisa saja menang dengan cara yang lebih hebat ketimbang bertahan lalu menunggu bola lepas dari permainan anak-anak Surabaya.

Dengan filosofi bermain yang dianut Rahmad Darmawan – yang lebih suka bermain menyerang dengan penguasaan bola, Persib saat itu bisa memanfaatkan celah dikedua fullback Persebaya yang sering meninggalkan posisinya. Namun, Djanur sendiri malah memberi instruksi Persib untuk bermain lebih bersabar, dan akhirnya kehilangan 3 poin akibat kesalahan pemainnya sendiri; Supardi, dalam mengantisipasi bola umpan silang pemain Persebaya saat itu.

Skor berakhir 1-1, dengan Persib yang lebih suka memainkan strategi serangan balik yang memang terbilang sukses namun kurang efektif – hanya menyisakan 1 pemain di depan.

Di beberapa kesempatan, contoh melawan Arema dan Persipura musim lalu, Kali ini Djanur sukses dengan filosofinya itu. Membiarkan permainan dikuasai lawan lalu saat bola terlepas, ia memberi instruksi agar bola cepat diberikan kepada kedua pemain sayap yang selalu siap menyerang lewat daerah yang selalu ditinggalkan bek sayap lawan.

Dia sukses menularkan filosofi bermain Jose Mourinho musim lalu dengan mementingkan hasil akhir ketimbang menguasai bola namun – akan – mengecewakan akhirnya. Menggunakan pola yang lebih modern: 4-2-3-1 yang bisa berubah menjadi 4-3-3 saat pertandingan berjalan.

Dengan hasil akhir bukan saja kemenangan tapi juga gelar juara ISL 2014 sebagai bukti nyata.

Iklan

4 respons untuk ‘Genetika Real Madrid Dan Chelsea Pada Persib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s